Posted by: widyantoa | March 23, 2011

Bencana itu

Siapa menabur angin akan menuai badai

Siapa menebang pohon akan memanen bencana

Ungkapan itu menggambarkan bencana tidak datang dengan sendirinya, melainkan ada penyebab yang memicunya. Di pulau Lombok, bencana alam yang paling menyebabkan kerugian dalam sepuluh tahun terakhir adalah banjir dan tanah longsor (gerakan tanah). Pada Januari 2006, banjir bandang menerjang Desa Belanting di Kabupaten Lombok Timur(Lotim). Ratusan rumah hancur dan sebanyak 3.500 orang diungsikan.[1] Banjir bandang datang dari arah kaki gunung Rinjani. Sementara itu, banjir besar di awal 2009 giliran melanda Desa Sajang dan Sembalun Bumbung, kecamatan Sembalun, Lotim.

Di Kabupaten Lombok Utara (KLU), banjir besar terjadi di Desa Bentek dan Jenggala. Besarnya volume air mampu menjebol dinding dam irigasi di Jenggala. Banjir bandang menghanyutkan rumah, jembatan serta ternak, menggagalkan panen serta merusak jalan-jalan aspal di desa Bentek dan Jenggala pada tahun 2009.

… akibat hutan gundul

Kabupaten Lombok Timur berada pada 2 wilayah DAS yaitu DAS Putih dan DAS Menanga dengan luas 160.555 Ha dan mencakup wilayah 20 Kecamatan. Lahan kritis di kawasan ini mencapai luas 16.087 Ha. Deforestasi akibat penebangan hutan dan degradasi lahan karena sistem pertanian yang tidak ramah lingkungan berkontribusi pada terjadinya banjir bandang.

Makmurudin, warga Desa Pemenang Timur, KLU, menyatakan banjir bukan hanya dipicu penebangan liar tetapi juga pembukaan ladang oleh warga desa. Dalam beberapa tahun terakhir, warga desa mulai membuka ladang di areal bekas HPH dan hutan di sekitarnya. Mereka menanam pisang, coklat dan kopi. Alasan ekonomi menjadi pembenar aktivitas yang tidak sepenuhnya benar ini.

… kami tidak waspada

R. Mardi dari Desa Jenggala, KLU, mengaku tidak menyangka banjir tahun 2009 akan sebesar itu. Biasanya di wilayah kecamatan Kayangan dan Tanjung memang terjadi banjir pada musim hujan. Namun banjir 2009 ternyata jauh dari perkiraan warga sehingga banyak wilayah yang sebelumnya aman juga ikut terendam. Di Desa Sajang, Lombok Timur, meskipun umumnya warga telah memprediksi datangnya banjir tahunan, ada 2 warga yang menjadi korban.

… setelah hujan terus menerus

Menurut Sukmawati dari Sajang, banjir terjadi akhir-akhir ini saja dan disebabkan oleh hujan yang turun terus menerus selama 7 hari 7 malam. Ini biasanya terjadi pada puncak musim penghujan antara bulan Januari hingga Februari tiap tahunnya. Di awal 2009, beberapa wilayah di pulau Lombok juga diterjang banjir dan tanah longsor setelah turun hujan lebat sepanjang tanggal 9 dan 10 Januari 2009.

… lingkungan kami berubah

Dahulu hujan besar tidak menyebabkan banjir. Sekarang terjadi banjir di Sajang karena saluran air banyak yang tersumbat. Menurut penuturan Kaur Umum Desa Sajang, banjir terjadi sejak ada pembangunan green house PT Agrindo seluas 200 hektar. Ini mengakibatkan berkurangnya daerah resapan air. Sementara untuk mengairi lahan seluas itu perusahaan menutup dan mengalihkan aliran beberapa anak sungai ke dalam kolam buatan seluas 15 hektar. Pada kejadian tahun 2009, beberapa anak sungai yang ditutup meluap dan membanjiri wilayah Sembalun Bumbung dan Sajang. Perubahan lingkungan ini menyebabkan meluapnya air dari sungai.

Tahun ini, hujan justru tak turun-turun. Kemarau tahun lalu masih berlanjut. Padahal warga Sajang sudah bersiap siaga menyimpan cadangan pangan dan kayu bakar untuk menghadapi musim hujan. Warga juga belum berani memulai tanam padi sebelum hujan 7 hari 7 malam itu lewat. Jika sampai dihantam hujan berkepanjangan benih yang ditanam bisa mati dan petani rugi besar.

Medo, warga Desa Pemenang Barat, KLU, mengeluhkan datangnya hujan dan banjir sekarang susah diramal. Orang-orang tua yang pintar menghitung dan membaca musim sudah tidak sanggup meramalnya. Musim dan cuaca sudah berubah, datangnya banjir dan hujan tak bisa diperkirakan seperti dulu. Pola tanam sering menjadi tidak sesuai dengan musim. Tahun ini, banyak kejadian benih mati di tanah dan tanaman gagal berisi karena hujan tak jadi turun.

… kehendak alam

Umumnya masyarakat di Lombok Utara dan Timur memandang banjir dan longsor sebagai buah dari perilaku manusia yang tidak ramah terhadap alam. Kartono, staf Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, KLU, berpendapat bencana alam akan terus terjadi selama model pembangunan dilakukan dengan merusak alam. Hanya gempa bumi yang manusia tidak bisa mengelak maupun memprediksinya. Ini murni merupakan kehendak alam yang masih jadi misteri.

Sukmawati berpendapat bahwa Gunung Api adalah sumber bahaya yang lepas dari pengaruh perbuatan manusia. Warga di sana mengaku pasrah dengan adanya aktivitas Gunung Baru Jari yang aktif dari tahun lalu. Letusan Gunung Rinjani pada masa lalu sempat menimbulkan korban jiwa dan merusak tanaman pertanian.

… kami bantu

Pada peristiwa banjir bandang di Desa Bentek, dinas kesehatan kabupaten yang baru berusia setahun ini mendirikan posko bantuan selama 2 minggu. Selama periode darurat itu berbagai keperluan pengungsi dipenuhi oleh pemerintah. Di Desa Gumantar, pemerintah desa menyalurkan dana ADD untuk perbaikan jalan.

Husni, dari PMI menerangkan bahwa di KLU banyak sekali wilayah yang tergolong rawan bencana. Tidak hanya banjir dan longsor tapi juga kebakaran dan kekeringan. Namun, respon dari Pemda dan masyarakat masih sebatas pemberian bantuan. Menurutnya, selain kegiatan tanggap darurat mesti ada juga pengenalan terhadap risiko-risiko yang ada.

Sebuah lembaga yang beraktivitas di KLU menjanjikan kepada masyarakat sekitar Bentek dan Jenggala sebuah jembatan evakuasi. Dijanjikan pula bahwa Pemprov NTB akan menyiapkan mobil dapur umum. Tapi sampai saat ini kedua hal itu baru sebatas janji.

… maaf, belum kami anggarkan

Kepala Bappeda Lombok Utara dalam ekspose program di Kantor Bappeda (17/3) menyatakan prioritas KLU saat ini adalah pengadaan infrastruktur dan pemutakhiran data setelah setahun berpisah dari Kabupaten Lombok Barat. Untuk penanggulangan bencana belum menjadi prioritas anggaran mereka.

Meski demikian Pemkab bukannya tidak memberi perhatian soal kebencanaan. Seperti dinyatakan Komang Rata, saat ini KLU telah membentuk Satgas Reaksi Cepat untuk merespon kejadian bencana. Menurut pegawai kantor Kesbangpolinmas ini, tim sedang menunggu keluarnya SK Bupati.***


[1] Liputan6.com 24/01/2006, Tempo Interaktif 22/01/2006


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.