Posted by: widyantoa | March 23, 2011

Dua Sisi

Suatu sore pada sekira tiga purnama yang lalu, Saenur baru turun dari kebunnya. Istrinya menghembuskan nafas panjang melihatnya masuk ke rumah dengan wajah lesu, seperti telah hapal suasana hati sang suami akhir-akhir ini. Tanaman kakao yang telah bertahun-tahun dipelihara dan menopang nafkah keluarga diserang penyakit. Busuk buah, itulah penyakit yang akhir-akhir ini melanda tanaman kakao dan membuatnya galau. Penyakit ini disebabkan oleh sejenis jamur.[2] Ia menjadi lebih sering datang menyerang buah kakao bersamaan datangnya hujan yang seperti tidak pernah absen akhir-akhir ini. Demikian Bapak … anak ini menuturkan kisahnya dalam sebuah silaturahmi di Balai Desa Salut, Kecamatan Kayangan, Kabupaten Lombok Utara pada akhir bulan lalu.

Lain lagi kisah Jumadil, pria hampir paruh baya yang tinggal di Dusun Sambik Rindang, di bagian hilir Desa Salut. Dusun ini lahannya relatif rata sehingga cocok untuk persawahan. Jumadil merasa musim hujan yang lebih panjang dari biasanya menjadi berkah baginya dan teman-temannya sesama petani padi. Dalam dua tahun terakhir panen di lahannya semakin membaik akibat lancarnya pasokan air. Padahal, dulunya dusun ini selalu kekurangan air sehingga hasil panen dari sawah-sawah tadah hujan selalu kurang.

Demikianlah dua cerita bertolak belakang dari dua petani di desa yang sama akibat perubahan cuaca yang mencolok dalam 2 tahun terakhir. Pada satu sisi, musim hujan berkepanjangan menyebabkan kerugian bagi petani lahan kering (kebun). Curah hujan berlebih meningkatkan kelembaban udara sehingga mendukung perkembangbiakan jamur.[3] Salah satunya yang menginfeksi buah-buah kakao dan menyebabkan penyakit busuk buah. Namun bagi petani sawah, pasokan air yang melimpah sepanjang tahun membuat padi tumbuh subur, panen pun lebih berbobot dari sebelumnya.

Cerita dari Desa Salut ini menyampaikan pesan bahwa cuaca dan musim telah berubah. Menurut warga Salut, memang ada kecenderungan meningkatnya curah hujan pada akhir dasawarsa 2000.[4] Beberapa tanaman perkebunan (buah) seperti Mangga sulit berbuah karena bunganya selalu rontok terkena hujan deras. Perubahan cuaca di Salut ini sesuai dengan prediksi Anomali Cuaca di Indonesia untuk periode 2009-2010. Sejak paruh kedua 2009 hingga paruh pertama 2010 di NTB terjadi kemarau panjang. Dimana-mana terjadi kekeringan dan gagal panen. Lalu pada sekitar paruh kedua 2010 cuaca berbalik yang ditandai dengan curah hujan yang meningkat tajam. Ini juga dapat berdampak tidak baik bagi pertanian, baik tanaman padi maupun tanaman yang tidak membutuhkan banyak air seperti tembakau.

Berubahnya cuaca diyakini telah terjadi baik oleh pakar cuaca maupun petani. Mereka sama-sama memiliki bukti akan hal ini. Dalam pertanian, naik turunnya suhu dan kelembaban udara, juga curah hujan berimplikasi sangat nyata bagi pertumbuhan tanaman dan habitat tumbuhnya. Dalam jangka panjang, perubahan iklim dapat mengakibatkan perubahan yang lebih nyata dan sifatnya menetap. Keberhasilan usaha tani di tengah iklim yang sedang berubah sangat ditentukan oleh penyesuaian yang dilakukan terhadap perubahan cuaca dan pengaruh-pengaruhnya pada agro-ekosistem. Upaya semacam ini dikenal sebagai Adaptasi terhadap Perubahan Iklim.

Uniknya, cuaca ekstrem di Salut berdampak tidak sama terhadap lahan dan komoditi yang beda. Dampak perubahan cuaca bagi lahan perkebunan dan persawahan beda, bahkan bertolak belakang. Keunikan yang kedua, ketika sebagian besar pulau Lombok mengalami kekeringan sepanjang 2009-2010, Desa Salut justru berlimpah hujan. Saat dimana-mana terjadi gagal panen akibat kekeringan, Salut justru merayakan panen padi. Cuaca ekstrem punya dua sisi yang bertolak belakang.

Pada skala yang lebih besar perubahan iklim juga berdampak dua sisi. Konon diramalkan bahwa pertanian di wilayah Asia akan menurun akibat naiknya suhu udara rata-rata dunia. Akan tetapi, Rusia justru diuntungkan karena banyak wilayah negaranya yang tadinya terlalu dingin menjadi bisa ditanami.

Apapun dampak perubahan iklim terhadap pilihan dan tempat hidup kita, penting disadari sejak mula. Ini agar kita mampu memperhitungkan risiko dan mengurangi kerugian. Sebuah penelitian tentang dampak perubahan iklim pada sektor pertanian di Pulau Lombok menyimpulkan kecamatan Kayangan sebagai salah satu wilayah yang berisiko gagal tanam dan gagal panen akibat perubahan iklim.[5] Karena itu, upaya adaptasi sebaiknya segera digagas dan mulai dijalankan sebelum terlambat.***

Mataram, 8 Maret 2011, 23:11 WITA


[1] Oleh-oleh kegiatan Monev di Desa Salut, wilayah program Building Resilience di Kabupaten Lombok Utara, pada 25 Februari 2011.

[2] Jamur Phytophtora palmivera menyebabkan penyakit Busuk Buah pada tanaman Kakao.

[3] Percikan air hujan adalah salah satu media penyebaran spora jamur ini.

[4] Dokumen PCVA Desa Salut oleh Yayasan Koslata.

[5] Kajian Risiko dan Adaptasi Terhadap Perubahan Iklim Pulau Lombok Provinsi Nusa Tenggara Barat. KLH, GTZ, Pemprov NTB, WWF.

Posted by: widyantoa | March 23, 2011

Bencana itu

Siapa menabur angin akan menuai badai

Siapa menebang pohon akan memanen bencana

Ungkapan itu menggambarkan bencana tidak datang dengan sendirinya, melainkan ada penyebab yang memicunya. Di pulau Lombok, bencana alam yang paling menyebabkan kerugian dalam sepuluh tahun terakhir adalah banjir dan tanah longsor (gerakan tanah). Pada Januari 2006, banjir bandang menerjang Desa Belanting di Kabupaten Lombok Timur(Lotim). Ratusan rumah hancur dan sebanyak 3.500 orang diungsikan.[1] Banjir bandang datang dari arah kaki gunung Rinjani. Sementara itu, banjir besar di awal 2009 giliran melanda Desa Sajang dan Sembalun Bumbung, kecamatan Sembalun, Lotim.

Di Kabupaten Lombok Utara (KLU), banjir besar terjadi di Desa Bentek dan Jenggala. Besarnya volume air mampu menjebol dinding dam irigasi di Jenggala. Banjir bandang menghanyutkan rumah, jembatan serta ternak, menggagalkan panen serta merusak jalan-jalan aspal di desa Bentek dan Jenggala pada tahun 2009.

… akibat hutan gundul

Kabupaten Lombok Timur berada pada 2 wilayah DAS yaitu DAS Putih dan DAS Menanga dengan luas 160.555 Ha dan mencakup wilayah 20 Kecamatan. Lahan kritis di kawasan ini mencapai luas 16.087 Ha. Deforestasi akibat penebangan hutan dan degradasi lahan karena sistem pertanian yang tidak ramah lingkungan berkontribusi pada terjadinya banjir bandang.

Makmurudin, warga Desa Pemenang Timur, KLU, menyatakan banjir bukan hanya dipicu penebangan liar tetapi juga pembukaan ladang oleh warga desa. Dalam beberapa tahun terakhir, warga desa mulai membuka ladang di areal bekas HPH dan hutan di sekitarnya. Mereka menanam pisang, coklat dan kopi. Alasan ekonomi menjadi pembenar aktivitas yang tidak sepenuhnya benar ini.

… kami tidak waspada

R. Mardi dari Desa Jenggala, KLU, mengaku tidak menyangka banjir tahun 2009 akan sebesar itu. Biasanya di wilayah kecamatan Kayangan dan Tanjung memang terjadi banjir pada musim hujan. Namun banjir 2009 ternyata jauh dari perkiraan warga sehingga banyak wilayah yang sebelumnya aman juga ikut terendam. Di Desa Sajang, Lombok Timur, meskipun umumnya warga telah memprediksi datangnya banjir tahunan, ada 2 warga yang menjadi korban.

… setelah hujan terus menerus

Menurut Sukmawati dari Sajang, banjir terjadi akhir-akhir ini saja dan disebabkan oleh hujan yang turun terus menerus selama 7 hari 7 malam. Ini biasanya terjadi pada puncak musim penghujan antara bulan Januari hingga Februari tiap tahunnya. Di awal 2009, beberapa wilayah di pulau Lombok juga diterjang banjir dan tanah longsor setelah turun hujan lebat sepanjang tanggal 9 dan 10 Januari 2009.

… lingkungan kami berubah

Dahulu hujan besar tidak menyebabkan banjir. Sekarang terjadi banjir di Sajang karena saluran air banyak yang tersumbat. Menurut penuturan Kaur Umum Desa Sajang, banjir terjadi sejak ada pembangunan green house PT Agrindo seluas 200 hektar. Ini mengakibatkan berkurangnya daerah resapan air. Sementara untuk mengairi lahan seluas itu perusahaan menutup dan mengalihkan aliran beberapa anak sungai ke dalam kolam buatan seluas 15 hektar. Pada kejadian tahun 2009, beberapa anak sungai yang ditutup meluap dan membanjiri wilayah Sembalun Bumbung dan Sajang. Perubahan lingkungan ini menyebabkan meluapnya air dari sungai.

Tahun ini, hujan justru tak turun-turun. Kemarau tahun lalu masih berlanjut. Padahal warga Sajang sudah bersiap siaga menyimpan cadangan pangan dan kayu bakar untuk menghadapi musim hujan. Warga juga belum berani memulai tanam padi sebelum hujan 7 hari 7 malam itu lewat. Jika sampai dihantam hujan berkepanjangan benih yang ditanam bisa mati dan petani rugi besar.

Medo, warga Desa Pemenang Barat, KLU, mengeluhkan datangnya hujan dan banjir sekarang susah diramal. Orang-orang tua yang pintar menghitung dan membaca musim sudah tidak sanggup meramalnya. Musim dan cuaca sudah berubah, datangnya banjir dan hujan tak bisa diperkirakan seperti dulu. Pola tanam sering menjadi tidak sesuai dengan musim. Tahun ini, banyak kejadian benih mati di tanah dan tanaman gagal berisi karena hujan tak jadi turun.

… kehendak alam

Umumnya masyarakat di Lombok Utara dan Timur memandang banjir dan longsor sebagai buah dari perilaku manusia yang tidak ramah terhadap alam. Kartono, staf Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, KLU, berpendapat bencana alam akan terus terjadi selama model pembangunan dilakukan dengan merusak alam. Hanya gempa bumi yang manusia tidak bisa mengelak maupun memprediksinya. Ini murni merupakan kehendak alam yang masih jadi misteri.

Sukmawati berpendapat bahwa Gunung Api adalah sumber bahaya yang lepas dari pengaruh perbuatan manusia. Warga di sana mengaku pasrah dengan adanya aktivitas Gunung Baru Jari yang aktif dari tahun lalu. Letusan Gunung Rinjani pada masa lalu sempat menimbulkan korban jiwa dan merusak tanaman pertanian.

… kami bantu

Pada peristiwa banjir bandang di Desa Bentek, dinas kesehatan kabupaten yang baru berusia setahun ini mendirikan posko bantuan selama 2 minggu. Selama periode darurat itu berbagai keperluan pengungsi dipenuhi oleh pemerintah. Di Desa Gumantar, pemerintah desa menyalurkan dana ADD untuk perbaikan jalan.

Husni, dari PMI menerangkan bahwa di KLU banyak sekali wilayah yang tergolong rawan bencana. Tidak hanya banjir dan longsor tapi juga kebakaran dan kekeringan. Namun, respon dari Pemda dan masyarakat masih sebatas pemberian bantuan. Menurutnya, selain kegiatan tanggap darurat mesti ada juga pengenalan terhadap risiko-risiko yang ada.

Sebuah lembaga yang beraktivitas di KLU menjanjikan kepada masyarakat sekitar Bentek dan Jenggala sebuah jembatan evakuasi. Dijanjikan pula bahwa Pemprov NTB akan menyiapkan mobil dapur umum. Tapi sampai saat ini kedua hal itu baru sebatas janji.

… maaf, belum kami anggarkan

Kepala Bappeda Lombok Utara dalam ekspose program di Kantor Bappeda (17/3) menyatakan prioritas KLU saat ini adalah pengadaan infrastruktur dan pemutakhiran data setelah setahun berpisah dari Kabupaten Lombok Barat. Untuk penanggulangan bencana belum menjadi prioritas anggaran mereka.

Meski demikian Pemkab bukannya tidak memberi perhatian soal kebencanaan. Seperti dinyatakan Komang Rata, saat ini KLU telah membentuk Satgas Reaksi Cepat untuk merespon kejadian bencana. Menurut pegawai kantor Kesbangpolinmas ini, tim sedang menunggu keluarnya SK Bupati.***


[1] Liputan6.com 24/01/2006, Tempo Interaktif 22/01/2006

Posted by: widyantoa | January 5, 2010

Bringing the message down to practice

Building disaster risk reduction awareness and practice in Donggala, Central Sulawesi

Donggala is one of the most vulnerable district in Central Sulawesi.  Situated on the tip of a triangle, it is frequently exposed to all kinds of natural hazards: earthquake, tsunami, flood and landslide.

Like in many places of Indonesia, people tend to link natural hazards with God’s fate or curse to mankind for their wrongdoing.  Lack of understanding also leads to wrong practices.

After the massive destruction of Tsunami in North Sumatra in 2004, people in Donggala associate earthquake with tsunami.  Since then, the villagers run to higher ground whenever there is an earthquake, leaving their home behind to save their lives.  Some local thugs have made use of this situation by stealing items from these vacant houses.

To governments and communities, responding to emergencies is common but disaster management is a different story.

“We used to respond to disasters only during emergency events and never take mitigation measures prior to it,” Mr. Madjid, the Head of Kesbanglinmas office of Donggala district said.

Oxfam’s “Strengthening the Capacity of Government and Communities in Disaster Risk Reduction project*” in partnership with Jambata Foundation started in Donggala district in 2008 to build awareness and practice on disaster risk reduction at community level.

Myth buster

“It is important to demystify disasters because it can be scientifically explained,” Robert Owen Wahyu, the Head of District Geophysical Station (BMKG) of Palu emphasises.

Short Messages (SMS) containing information about earthquakes are sent as soon as two minutes following each earthquake with more than 5 Richter scale by The BMG central office in Jakarta. The information includes the scale, exact location, and tsunami potential of each earthquake.

The SMS service is provided throughout the country.  The district office forwards SMS from BMKG central office to key stakeholder and communities in vulnerable areas. with the station used to get sponsorship from a Singapore-based telecommunications company.  Although the sponsorship was ended recently due to the global financial crisis, they’re currently seeking for new sponsors.

Building capacity

Oxfam and Jambata trained community representatives as Village Preparedness Team (VPT).  They learned about the nature of each hazards and how to respond to them properly. Participatory risk assessment is conducted at community level by Jambata staffs, together with local community organisers, and VPT.  Community action plans (CAP) are then developed based on the assessment to reduce vulnerability.

This complete cycle of risk reduction measure serves as good example to the locals how to address disaster by knowing the risk (hazard, vulnerability), and taking proper measure based on analysis.

Bridging the gap

Take Towale village for example.  This coastal village has been repeatedly hit by seasonal high tide and flood.  During times of hazard, daily activities like going to schools or going to the markets have to stop temporarily because the transportation routes are disrupted.  Students and teachers have to wait for at least three to four hours before the water level is low enough for them to continue walking to school.  This could happen for five to six days each season, once to three times a year.

Using CAP process, the community identified the community action plan as building semi permanent bridge connecting two sides of the village will allow schools, markets, and other activites to continue without disruption.  The plan was chosen to be implemented with financial support from Disaster Reduction Fund (DRF), provided by Oxfam’s project.  Now that the bridge was built, the communities’ economy is not as fragile as it was in the past.  This is one of the best learning of this project–addressing the right priority of vulnerability can lead us to a valuable outcome.

Planting seeds of awareness and practice

Education sector plays significant role in growing seeds of awareness and practices. It was first started with training elementary school teachers how to deal with emergency situation caused by natural hazards.  The focus is finding the right media to familiarise students with natural hazards and teach them what to do when it happens. Training for teachers has proven to be the right priority since we found that they easily transfer the practices to students.   A daily familiarisation of earthquake rescue and evacuation for students has been organised and the first school evacuation drill will be organised in August.

A holistic approach

Jambata and Oxfam introduced a more holistic paradigm of disaster management to the members of Disaster Response Task Force (Satlak PB) of Donggala through series of trainings organized by It is expected the paradigm shift will then lead to policy shift in managing disaster risk.

Currently, the draft Contingency Plan for Donggala is being finalized by a government working group. They plan to lobby the District Chief (Bupati) to formalize the draft afterwards.  District Action Plan (RAD) on Disaster Risk Reduction will also be revised.

The project is now on its second and final year.  So far, people of Donggala learned to rely on information from BMKG before taking any measures.  The project has successfully changed the way people see natural hazards.  The provincial government realised the importance of disaster risk reduction as the Head of Regional Development Planning Body (BAPPEDA) Donggala committed to continue government’s support and to make disaster reduction a priority.


this article was published on bulletin CONNEXION of Oxfam GB East Asia in July 2009 on my behalf

Introduction

Background, Objective and Method

The development of mining industry in the world is in the fast growing pace as mineral commodity continue to gain good price and high demand continue to come from the fast growing new economic centers like China and India. The two factors contributed to expansion of mining industries into areas not yet entitled to any concession. This has also brought resurgence of existing concessions that are not yet developed due to uneconomic price and financial institutions’ reluctance to finance projects that would yield only small revenues.

Read More…

Posted by: widyantoa | August 14, 2007

Vang Vieng

In between the mood for tourism and mining

panorama1.jpg

Vang Vieng (pronounced “wang wiang”) is one of the most tourist-attracting spot in Lao PDR. As the other major recreational places in Lao, Vang Vieng shares the beauty of big river and valley. This plateau has been well-known among travelers and backpackers for quite reasons. Read More…

Posted by: widyantoa | August 9, 2007

Pantai Barat Sumatera dan Resiko Bencana Lingkungan

artikel ini juga dimuat di indoprogress

Pada 26 Desember 2004 lalu Samudera Hindia dilanda gempa dahsyat yang mengakibatkan tsunami dan menelan korban ratusan ribu jiwa di Aceh, belum termasuk di negara-negara lainnya. Paska peristiwa dahsyat itu, banyak ahli menyerukan pentingnya memasukkan manajemen bencana dalam perencanaan pembangunan. Tujuannya, agar jika terjadi gejala alam luar biasa seperti tsunami atau gempa bumi kerugian jiwa, harta dan infrastruktur dapat diminimalkan. Manajemen bencana tidak sama dengan menghilangkan sama sekali kemungkinan terjadinya bencana. Manajemen bencana memungkinkan kita menghindari lebih banyak kerugian dengan cara mengurangi kerentanan kita terhadap bencana. Read More…

Posted by: widyantoa | July 7, 2007

Joint Venture Baru di Bacan

Setelah Ingold, Newcrest, dan ANTAM yang lama bercokol, kepulauan Maluku dan sekitarnya segera menyambut hadirnya pemain baru di sektor tambang mineral. Investor yang baru saja meneken kesepakatan dengan pengusaha lokal ini adalah Asia Gold (South Gobi) kongsi tambang dari Vancouver, Kanada. Read More…

Posted by: widyantoa | July 6, 2007

Belum Cukupkah Lapindo..

Tambang-tambang Baru di Pulau Jawa

Saat membicarakan hiruk-pikuk dunia pertambangan dengan berbagai kasus dan polemik yang terjadi, yang sering terbayang di kepala adalah kawasan-kawasan di luar Jawa yang dulunya berhutan lebat dengan sungai-sungai yang mengalir deras. Tambang emas, timah, nikel, atau tembaga dll banyak berada di pulau-pulau Sumatera, Kalimantan, juga pulau-pulau kecil seperti Bangka dan Belitung. Namun di era keemasan industri pertambangan dan otonomi daerah ini, Jawa pun bisa disulap jadi lahan investasi tambang. Read More…

Posted by: widyantoa | June 29, 2007

Mining Proponent’s Misleading Opinion

this article was published in the Jakarta Post daily on July 7, 2007

 

The Jakarta Post Daily, in the Opinion and Editorial page published 21 June 2007, quoted an article written by Yolanda Torrisi, who is renowned as the publisher of ASIA Miner Magazine in Melbourne. The article began by raising a concern over protracted legislation of the Indonesian new mining Bill called Undang-undang Pertambangan Mineral dan Batubara (Minerba) and attempts to further discuss the matters being debated, however it introduces other topics with poor valid data apparently only from single source, thus the article becomes tendentious and far from objective. Read More…

Mineral is non-renewable resource and is therefore its development only deliver yields for certain period.(1) The availability of mineral resources is limited to the amount of reserves that lies underground. Once the reserve depletes the ore cannot be produced anymore. This fact brings two kinds of consequence.

Read More…

Older Posts »

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.